Bagaimana Hukumnya Pergi Haji Atas Kerelaan Debitur ?

Bagaimana Hukumnya Pergi Haji Atas Kerelaan Debitur ? ada seorang yang ingin pergi haji, tetapi ia masih punya tanggungan sejumlah utang, sementara pihak yang mempunyai piutang atau yang lazim disebut kreditur berkata kepadanya, "Kalau engkau meninggal dunia saat berhaji, utangmu saya bebaskan" Tetapi ia merasa ragu-ragu, apakah berangkat haji ataukah tidak ?

Jawaban : Seorang muslim yang memiliki tanggungan utang seharusnya tidak berangkat haji sebelum melunasi utangnya. Sebab haji adalah kewajiban kepada Allah, sementara membayar utang adalah kewajiban kepada sesama hamba. Kewajiban-kewajiban kepada sesama cenderung dipenuhi, sedangkan kewajiban-kewajiban kepada Allah cenderung ditoleransi. Allah begitu mudahnya memaafkan, tidak seperti manusia. Itulah sebabnya orang tidak wajib menunaikan ibadah haji selama masih punya tanggungan utang, sampai bisa melunasinya.

Akan tetapi kalau pihak yang berhak atas piutang merelakannya dengan berkata "saya rela engkau pergi haji", berarti ia telah melepaskan haknya. Apalagi kalau ia menambahkan, "Jika engkau meninggal dunia saat berhaji maka uang saya yang ada padamu saya relakan". Tentu ini merupakan tambahan kebaikan  darinya. Semoga Allah memberikan pahala yang terbaik baginya. Tetapi jika ia tidak mengizinkan maka orang yang bersangkutan tidak boleh pergi haji.

Dari sini, saya berpendapat jika orang yang berutang ingin sekali menunaikan ibadah haji, ia boleh pergi dengan syarat harus meminta izin terlebih dahulu kepada pihak yang berhak atas piutang. Jika diizinkan maka ia boleh pergi haji. Itu pun dengan syarat ia harus benar-benar yakin dapat melunasi utangnya.

Tetapi kalau ia yakin sepulangnya dari haji tidak sanggup melunasi utangnya, ia tidak boleh pergi haji. Sebab yang di prioritaskan adalah membayar utang.

Soal utang yang dibayar secara berangsur, seperti utang kepada pihak bank, ada yang dengan jaminan berupa rumah atau tanah atau barang lainnya dalam jangka waktu 20-30 tahun. Sistem seperti ini sudah lazim berlaku. Pihak kreditur mengambil angsuran dari gaji orang yang bersangkutan sampai lunas. Dalam kasus utang piutang seperti ini, orang yang berutang tidak terhalang dari pergi haji. Ia dilarang pergi haji kalau ia punya tanggungan utang yang berjangka waktu 2 sampai 3 tahun. Ia baru boleh menunaikan ibadah hajinya setelah melunasi utang tersebut. Jadi, ia tidak dilarang haji jika mendapat izin dari pihak yang berhak atas piutang, dan ia merasa yakin mampu melunasi utangnya.

Dari Buku 100 tanya jawab haji dan umrah, DR.Yusuf Qardhawi


paket umroh desember 2016

0 Komentar untuk "Bagaimana Hukumnya Pergi Haji Atas Kerelaan Debitur ?"
Back To Top