MAN ANA

MAN ANA

Seminggu lalu, saya diundang menghadiri sebuah acara walimatul aqiqah oleh seorang sahabat. Saat itu acara dihadiri ramai para tamu, dibacakan doa, zikir, serta tausiyah. Sesekali diselingi syair-syair oleh seorang munsyid.

Tebaklah oleh saudara apa salah satu syair yang dibawa pada malam hari itu? Yaitu seuntai lirik syahdu berjudul Man Ana. Sebuah karya sastra yang sangat indah bercerita tentang ucapan terimakasih dan pujian dari seorang murid kepada gurunya. Ah, sayang sekali saya tidak merekamnya.

Bait demi baitnya sungguh menyentuh kalbu. Betapa kita ini tidak berarti apa-apa jika tanpa pendidikan dari para ulama. Alangkah sudah sepantasnya seorang murid mencintai gurunya sampai-sampai ia akan bergetar hatinya dan mengembun pelupuk matanya apabila teringat dengan sosok murobbi nya itu.

Sejak detik pertama saya mendengar syair ini, satu demi satu wajah para pendidik hadir di hadapan saya. Ya, tidak ada kerinduan yang bisa mengalahkan rindunya seorang murid kepada gurunya. Bahkan jika dibandingkan kerinduan Majnun dengan Laila.

Tidak pula ada rasa bahagia yang lebih besar, dibanding bahagianya seorang murid yang duduk di majelis gurunya. Benar sekali jawaban seorang penuntut ilmu pada zaman dahulu, ketika mereka ditanya bagaimana perasaan senang mereka jika sedang duduk di hadapan gurunya? Maka mereka akan menjawab,

"Kami saat sedang memandang wajah para ulama, maka segala kepenatan dunia hilang berganti kenikmatan yang tak mampu dilukiskan. Bahkan seandainya kami membayangkan Malaikat Ridwan memanggil untuk mengajak ke surga, maka kami pasti mengabaikan ajakan tersebut dan lebih memilih duduk bersama guru kami."

Di manakah kita bisa menemukan ikatan yang begitu kuat seperti ini? Kalau bukan ikatan antara pendidik dengan anak didiknya. Duhai para pelita umat, siapalah kami ini jika tidak menerima cahaya pendidikan darimu. Manusia terpenjara dalam gelap, ulama lah yang membebaskannya. Manusia terperangkap dalam kelam, ulama pula yang menuntunnya.

Alhamdulillah, akhirnya saya menemukan juga rekaman dari syair Man Ana ini. Saya tidak sabar untuk memperdengarkan kepada saudara. Mungkin selera musik kita berbeda, tetapi saya yakin kita satu pendapat bahwa guru adalah sosok paling penting dalam perjalanan hidup seorang muslim. Sepakat?

MAN ANA

مَنْ أنَا مَنْ أنَا لَوْلَاكُمْ
كَيْفَ مَا حُبُّكُمْ كَيْفَ مَا أهْوَاكُمْ

Siapalah gerangan diriku ini
Kalau tiada bimbingan engkau
Bagaimana aku tidak mencintaimu
Bagaimana aku tak menginginkan tuk bersamamu

مَا سِوَى وَلاَ غَيْرَكُمْ سِوَاكُمْ
لاَ وَمَنْ فِي الْمَحَبَّة عَلَيَّ ولاَكُمْ

Tiada bagiku terkecuali engkau
Tiada siapapun yang kucintai
Selain engkau dalam hatiku

أَنْتُمْ أَنْتُمْ مُرَادِيْ وَأَنْتُمْ قَصْدِيْ
لَيْسَ أَحَدٌ فِي الْمَحَبَّة سِوَاكُمْ عِنْدِي

Engkaulah yang kudambakan
Engkau pula yang kuharapkan
Tiada seorangpun dalam kerinduan
Selain berada di sisimu

Salam Hijrah.
⏰ Waktunya bangun dan berubah dari tidur panjang kita!

Credit for Tuan guru Arafat

------------

Ingin berangkat umroh dengan biaya umroh terjangkau dan pesawat tanpa transit di bulan maret ?

Informasinya bisa anda lihat di Paket Umroh Bulan Maret

Subscribe to receive free email updates: