SATE KAMBING

SATE KAMBING

Gawat, salah satu restoran sate kambing favorit saya terancam kena gusur dampak pembangunan jalan tol Bekasi-Kampung Melayu. Semoga saja restoran ini pindah di tempat yang masih terjangkau dari kediaman saya.

Sate memang menu kesukaan kami sekeluarga. Isteri suka sate kambing, anak-anak suka sate ayam. Saya sendiri, suka keduanya. Jadi kalau saudara mau ngajak saya nyate, saya siap sate apa saja. Hehehe.

Sate itu terasa nikmat karena memiliki citarasa yang khas, saat masakan lain digoreng dan direbus, sate justru dibakar dengan arang. Karena itu sensasinya berbeda.

Kalau sudah bicara tentang bakar-bakaran, saya jadi teringat bahwa Rasulullah mengumpamakan kemarahan itu sebagai sifat yang membakar, sebagaimana dalam sabda Beliau SAW,

إِنَّ الْغَضَبَ مِنْ الشَّيْطَانِ وَإِنَّ الشَّيْطَانَ خُلِقَ مِنْ النَّارِ وَإِنَّمَا تُطْفَأُ النَّارُ بِالْمَاءِ فَإِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَتَوَضَّأْ

"Sesungguhnya amarah itu dari setan dan setan diciptakan dari api. Api akan padam dengan air. Apabila salah seorang dari kalian marah, hendaknya berwudhu."
(Hadist Riwayat Abu Daud)

Jadi hindarilah marah, sebelum ia membakar diri, keluarga, waktu, dan rezeki kita. Jika ada orang lain mencaci pribadi kita, tidak perlu marah, justru harusnya terima kasih siapa tahu caciannya itu benar, jadi kita bisa mengoreksi kekurangan kita.

Marah itu baru diperlukan, saat menyangkut kehormatan agama Allah. Lihatlah Rasulullah, saat pribadinya dihujat dengan sebutan penyihir dan pembohong, Beliau tidak marah. Tetapi begitu Yahudi melanggar perjanjian dengan kaum muslimin Madinah, barulah Beliau marah dan menyiapkan tentara perang. Mengapa? Untuk membela kehormatan agama Allah.

Itupun dilakukan dengan penuh pertimbangan dan dalam waktu yang cepat. Seperti ini pula Nabi Musa. Beliau marah saat kaumnya berpaling dari menyembah Allah. Beliau menegur Nabi Harun saudaranya yang diberi amanah menjaga kaumnya. (Surat Al-A'raf 150)

Kemudian Nabi Musa berdoa memohon ampun kepada Allah dengan kalimatnya,

قَالَ رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِأَخِي

"Ya Tuhanku, ampunilah aku dan saudaraku,"

Melihat dari kalimat tersebut, Nabi Musa masih dalam keadaan marah karena ia memisahkan penyebutan untuk dirinya dan saudaranya itu, sejurus kemudian Nabi Musa melanjutkan doanya kembali,

وَأَدْخِلْنَا فِي رَحْمَتِكَ ۖ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ

"Dan masukkanlah kami ke dalam rahmat-Mu, sesungguhnya Engkau adalah Maha Penyayang di antara para penyayang."
(Surat Al-A'raf 151)

Dalam hitungan sekejap saja kemarahan Nabi Musa telah mereda ditandai dengan kalimat Beliau berikutnya yang menggabungkan penyebutan dirinya dan saudaranya. Alih-alih mengatakan "masukkanlah aku dan saudaraku", justru Nabi Musa berdoa dengan ucapan "masukkanlah kami".

Begitulah marah. Secara umum kita harus menjauhinya, namun pada kondisi tertentu barulah marah diperlukan. Seperti halnya arang, sekali-kali kita perlukan kalau mau bakar sate. Betul kan?

Salam Hijrah.
⏰ Waktunya bangun dan berubah dari tidur panjang kita!

Ust Arafat

--------------
Anda butuh informasi umroh promo dengan biaya umroh terjangkau dan perjalanan yang aman ?
Silahkan klik Paket umroh murah 2018

Dan informasi umroh dibulan ramadhan silahkan klik biaya umroh ramadhan 2018

Subscribe to receive free email updates: